Jumat, 27 Mei 2011

BAHAN BELAJAR MANDIRI-PTK


BAHAN BELAJAR MANDIRI

Aktivitas sebuah kegiatan penelitian dimulai dengan membuat rencana. Rencana dimaksud umumnya disebut usulan penelitian atau proposal penelitian. Atas dasar itu, sebelum menyusun proposal hendaknya  guru peserta harus sudah memiliki gambaran atau rencana apa saja yang akan dilakukan dalam penelitiannya atau tindakannya. 



1.      PENGANTAR
Proposal PTK merupakan paparan rencana kegiatan yang dituangkan dalam bentuk naratif guna mengorganisasi-kan seluruh rangkaian tahap kegiatan PTK.
a.         Kedudukan Penyusunan Proposal
Topik penyusunan proposal merupakan topik bahasan pertemuan minggu ke-11 dari 16 pertemuan dalam proses belajar BERMUTU. Topik ini bukan bagian dari tahapan pelaksanaan PTK, tetapi hanya sebagai sarana dalam rangka mempermudah pelaksanan PTK yang akan dilakukan.   
b.         Pentingnya Prosedur Penyusunan Proposal
Tujuan PTK adalah adanya keinginan guru peserta yang hendak meneliti untuk memecahkan masalahnya melalui tindakan atau intervensi yang sudah dipertimbangkan dan direncanakan dengan sungguh-sungguh, sehingga hasilnya akan mampu menubuhkan perubahan yang mengarah pada perbaikan proses pembelajaran. Untuk itu, penyusunan proposal penelitian sangat penting dilakukan dan dipersiapkan dengan maksimal agar ada pegangan, panduan atau pedoman bagi peneliti dalam melaksanakan tindakan.
c.         Ruang Lingkup
Pada pertemuan ini akan dibahas tentang sistematika proposal dan berlatih menyusun proposal. Hal ini dipandang penting agar ada pedoman yang dapat digunakan sebagai pegangan para peserta sebelum melaksanakan tindakan.
d.         Petunjuk Kegiatan Pembelajaran
Total alokasi waktu yang dipergunakan dalam topik ini adalah 12 jam pelajaran yang meliputi tatap muka di MGMP selama 4 jam pelajaran (@ 50 menit), tugas terstruktur 4 jam pelajaran (@ 60 menit), dan tugas mandiri 4 jam pelajaran  (@ 60 menit). Adapun petunjuk dari masing-masing kegiatan tersebut dijabarkan sebagai berikut. 


Kegiatan Tatap Muka
Kegiatan pembelajaran pada sesi ini adalah proses untuk memahami penyusunan proposal atau usulan penelitian dan berlatih menyusunnya. Pada kegiatan ini pemandu memandu dan membimbing guru peserta dalam berlatih menyusun proposal penelitian tindakan kelas berdasar-kan satu permasalahan yang diangkat.
Tugas Terstruktur dan Tugas Mandiri
Setelah kegiatan belajar tatap muka di forum MGMP, guru peserta diharuskan melakukan kegiatan mandiri, yaitu mengerjakan tugas terstruktur berupa menyusun proposal PTK  berdasarkan permasahan yang sudah dipilihnya. Selain tugas terstruktur, guru peserta pun diberi tugas mandiri, yaitu menelaah lebih lanjut tentang teknik atau cara penyusunan proposal dari sumber belajar yang tersedia dan sumber yang relevan. Setelah itu, guru peserta menyusun laporan kajian kritis hasil penelaahannya dan membawanya dalam per-temuan berikut.

2.         KOMPETENSI DAN INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

Kompetensi dan indikator yang ingin dicapai pada pertemuan ini adalah sebagai berikut.



3.      PERSIAPAN
Agar pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal, pemandu hendaknya mempersiapkan hal-hal berikut.
a.         Mempelajari topik dan sumber belajar yang relevan.
b.         Menyiapkan bahan ajar dalam bentuk bahan Ajar berikut ini.  
·                Bahan Ajar 1          Pengantar Pembelajaran Penyusunan Proposal
·                Bahan Ajar 2          Sistematika Proposal Penelitian
·                Bahan Ajar 3          Tugas Terstruktur dan Tugas Mandiri
·                Bahan Ajar 4          Kata Mutiara
c.         Menyiapkan contoh proposal PTK pembelajaran bahasa Indonesia SMP.
d.         Menyiapkan alat  pembelajaran, seperti ATK, papan tulis, kertas plano, spidol, OHP, plastik tranparancies, LCD dan laptop (jika memungkinkan)



4.      SUMBER BELAJA
Sumber belajar yang dapat digunakan dalam pem-belajaran topik ini antara lain:
5.      KEGIATAN BELAJAR

Alur  Pembelajaran
Penjelasan Alur
Kegiatan 1          Pengantar
(Penjelasan tentang topik yang akan dipelajari)

Setelah mengucapkan salam, guru pemandu menjelaskan secara ringkas tentang topik yang akan dibahas, kompetensi, indikator pencapaian kompetensi, ruang lingkup, dan kegiatan belajar yang akan dilakukan melalui Bahan Ajar 1: pengantar pembelajaran topik penyusunan proposal
Langkah selanjutnya, guru pemandu  mengingatkan dan menginformasikan kembali pentingnya kegiatan penyusunan proposal sebelum PTK dilaksanakan. Agar kelas lebih hidup, pemandu bisa memberikan pertanyaan terlebih dahulu tentang seputar pentingnya penyusunan proposal








Kegiatan 2                              Kajian Tugas Mandiri       
(Mengkaji tugas mandiri tentang perencanaan tindakan)
Guru Pemandu membagi guru peserta menjadi beberapa kelompok (2 - 3  orang per kelompok) dan meminta masing-masing anggota kelompok saling mengoreksi dan menanggapi tugas terstruktur topik perencanaan tindak. Guru Pemandu berkeliling, memandu, dan membimbing tiap kelompok. Berdasarkan hasil koreksian dan tanggapan, peserta memperbaiki tugasnya.
Kegiatan 3                              Diskusi dan Presentasi Kelompok (Menganalisis bagian-bagian  proposal PTK)
Guru Pemandu  membagi kelas menjadi lima kelompok besar. Lalu membagikan contoh proposal PTK yang diperoleh dari Sumber Belajar 2: Contoh Proposal PTK kepada tiap kelompok. Setelah itu, masing-masing ke-lompok peserta diberi waktu untuk membaca atau mencermati contoh proposal tersebut. Berikutnya guru pemandu mempersilakan kepada masing-masing kelom-pok untuk menganalisis bagian-bagian proposal, apa dan bagaimana isinya. Pertanyaan berikut dapat digunakan sebagai arahan/pemandu.
Langkah selanjutnya, guru pemandu mempersilakan salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya dan meminta kepada kelompok lain untuk menanggapinya. Setelah itu, guru pemandu memper-lihatkan Bahan Ajar 2: Sistematika Proposal Penelitian dan meminta kepada guru peserta untuk menemukan kesamaan dan perbedaannya dengan format yang di-pakai dalam contoh proposal PTK.  Hasil dari kegiatan ini adalah format proposal hasil gabungan dari keduanya. Format ini akan digunakan dalam latihan menyusun  proposal PTK.
Kegiatan 4                              Kerja Kelompok
(Latihan menyusun proposal PTK)
Guru Pemandu menugasi masing-masing kelompok untuk menyusun proposal PTK berdasarkan perencanaan yang sudah disusun pada pertemuan sebelumnya. Pada langkah pertama pemandu mempersilakan tiap ke-lompok mendiskusikan judul yang mencerminkan per-masalahan pokok yang akan dipecahkan dalam PTK. Selain itu, judul juga harus singkat dan spesifik.
Contoh:

Pada langkah kedua, pemandu mengajak kelompok untuk memulai menulis proposal. Bagian pertama me-nuliskan latar belakang masalah. Bagian ini di antaranya mengemukakan bahwa masalah tersebut merupakan masalah faktual dan nyata, dan masalah tersebut me-rupakan masalah yang penting dan mendesak untuk dipecahkan.
Contoh:
Latar Belakang Masalah
·                            Permasalahan yang diangkat adalah masih rendahnya kemampuan siswa dalam membaca cepat. Hal ini tercermin dari masih rendahnya kecepatan membaca siswa dan rendahnya pe-mahaman terhadap isi bacaan.
·                            Penting bagi siswa memiliki kemampuan membaca cepat untuk menjalani hidup masa kini dan masa akan datang, khususnya untuk mendukung kemampuan berbahasa produktif, seperti ber-bicara dan menulis.
·                            Banyaknya informasi yang perlu diakses oleh siswa dalam rangka pengembangan pengetahuan dan wawasan.
·                            Kemampuan membaca dapat berpengaruh ter-hadap mata pelajaran lain.
·                            Perlunya metode atau teknik yang dapat me-ningkatkan kemampuan membaca.
Setelah penyusunan latar belakang, guru pemandu memandu tiap kelompok untuk merumuskan masalah. Perumusan masalah biasanya berupa pertanyaan yang akan terjawab setelah tindakan selesai dilakukan. Perumusan masalah dirumuskan dengan kalimat tanya dan mengajukan alternatif tindakan yang akan di-lakukan.
Contoh:
Perumusan Masalah
Apakah penerapan metode membaca SQ3R dapat meningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas VIIA SMPN Jayanti?
Berikutnya, guru pemandu meminta tiap kelompok merumuskan tujuan dan manfaat penelitian. Tujuan penelitian dikemukakan secara singkat dan harus terjawab dalam kesimpulan hasil penelitian. Sedangkan manfaat penelitian menguraikan kontribusi hasil penelitian tentang kualitas pembelajaran sehingga tampak manfaatnya bagi siswa, guru, maupun komponen pendidikan di sekolah terkait.
Contoh:
Tujuan Penelitian
Meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca cepat melalui metode membaca SQ3R.
Manfaat Penelitian
·                            Proses belajar mengajar bahasa Indonesia, khususnya aspek membaca menjadi lebih menarik, menantang, dan menyenangkan.
·                            Ditemukan metode dan teknik pembelajaran aspek membaca yang tepat (tidak konvensional) dan variatif.
·                            Kecepatan membaca siswa meningkat.
Langkah selanjutnya, guru pemandu mempersilakan tiap kelompok mengembangkan kajian teori. Teori tersebut digunakan untuk menjelaskan tentang variabel yang akan diteliti, sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan.
Contoh
Kerangka teori dari judul PTK Penerapan Metode Membaca SQ3R untuk Meningkatan Kemampuan Membaca Siswa Kelas VII A SMPN Jayanti

1.     Hakikat Kemampuan Membaca Efektif (KEM)
2.     Hakikat Metode Membaca SQ3R
Setelah itu, guru pemandu membimbing tiap kelompok untuk menuliskan metodologi penelitian yang akan digunakan dalam PTK. Hal pertama menentukan setting penelitian yang menjelaskan tentang tempat dan waktu PTK dilakukan serta berapa siklus PTK yang akan dilakukan.
Contoh:
Tempat dan Waktu Penelitian
PTK ini dilaksanakan di SMP Negeri Jayanti, Tangerang pada awal tahun ajaran baru 2008/2009, yaitu bulan September s.d. Noveber 2008
Siklus PTK
PTK ini dilaksanakan melalui tiga siklus untuk meihat peningkatan kecepatan efektif membaca siswa melalui penerapan metode membaca SQ3R
Hal kedua menentukan subjek penelitian yang berisi informasi tentang di kelas mana PTK dilaksanakan dan jumlah siswa yang menjadi sasaran PTK.
Contoh:
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII A yang terdiri atas 40 siswa dengan komposisi perempuan 21 siswa dan laki-laki 19 siswa.
Selanjutnya, menentukan teknik dan alat pe-ngumpulan data.
Contoh:
Teknik Pengumpulan Data PTK
1.     Tes digunakan untuk mendapatkan data tentang kecepatan membaca dan pemahaman siswa ter-hadap isi bacaan.
2.     Observasi digunakan untuk mengumpulkan data tentag aktivitas siswa dalam PBM dan implementasi pembelajaran melalui metode SQ3R.
3.     Diskusi antara guru, teman sejawat, dan kolabo-rator untuk refleksi hasil siklus PTK.
Alat Pengumpulan Data
1.     Tes menggunakan butir soal untuk mengukur pema-haman terhadap isi teks.
2.     Observasi menggunakan lembar observasi untuk mengukur tingkat aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar.
3.     Diskusi menggunakan lembar catatan hasil diskusi.
Setelah itu, menentukan prosedur penelitian yang berisi hal-hal yang dilakukan setiap tahapan dalam PTK di setiap siklus.
Contoh:
Siklus 1 PTK
1.                                                        Perencanaan
Melakukan analisis kurikulum, membuat RPP, media, LKS, instrumen pembelajaran, dan instru-men observasi.
2.     Pelaksanaan
Melaksanakan pembelajaran berdasarkan rencana yang telah disiapkan.
3.     Pengamatan
Tim peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas pembelajaran.
4.     Refleksi
Tim peneliti melakukan refleksi terhadap pelak-sanaan siklus 1 dan menyusun rencana untuk siklus kedua.






Langkah seanjutnya menentukan rencana kerja mulai dari awal kegiatan sampai penyusunan laporan PTK.
Contoh:
Rencana Kerja

Setelah proposal tersusun, guru pemandu meminta salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusinya dan meminta kelompok lain menanggapinya.

Kegiatan 5                              Tugas Mandiri
(Menyusun proposal PTK berdasarkan permasalahan yang diangkatnya)
Guru Pemandu mempersilakan kepada guru peserta menyusun proposal PTK berdasarkan permasalahannya yang diangkatnya. Pada pertemuan ini hendaknya guru peserta mengembangkan garis besarnya. Sebagai pengingat, guru pemandu menayangkan Bahan Ajar 4 Kata Mutiara. Guru Pemandu mengingatkan sekaligus juga memotivasi bahwa pada saat menyusun proposal hendaknya dilakukan dengan cermat, teliti, dan disiplin, baik berpikir maupun bertindak.

Kegiatan 6                              Penutup
(Refleksi, dan Tindak Lanjut
Guru Pemandu memberikan kesempatan kepada guru peserta untuk mengajukan pertanyaan atau pernyataan terkait dengan topik penyusunan proposal. Setelah tanya jawab, beberapa guru peserta diminta untuk merangkum pembelajaran.
Langkah selanjutnya guru pemandu dan guru peserta melakukan refleksi pembelajaran. Guru pemandu memper-silakan setiap guru peserta menuliskan hasil refleksi diri tentang pengalaman melaksanakan latihan penyusunan proposal dalam buku kerja.
Guru Pemandu memberikan arahan tindak lanjut pembelajaran dengan memberikan kegiatan mandiri berupa tugas struktur dan tugas belajar mandiri. Pemandu mengingatkan guru peserta dengan menampilkan Bahan Ajar 3: Tugas Terstruktur dan Tugas Belajar Mandiri. Kemudian guru pemandu mengakhiri kegiatan dengan ucapan salam dan informasikan topik bahasan pertemuan minggu berikutnya yang akan dibahas, yaitu analisis dan interpretasi data.
6.         Penilaian
Penilaian terhadap pencapaian hasil belajar guru peserta dilakukan melalui produk yang dihasilkan.  Produk yang dapat dinilai adalah laporan tugas terstruktur berupa proposal penelitian. Produk guru peserta akan dilampirkan dalam portofolio.
Bahan Ajar 3                            Tugas Terstruktur dan Tugas Belajar Mandiri


Bahan Ajar 4                            Kata Mutiara     

Sumber Belajar 2
Contoh Proposal PTK

Peningkatan Kemampuan Siswa dalam Mendengarkan Cerita melalui Kerjasama Kelompok
oleh Drs. Eman Hidayat, M.M.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Mendengarkan sebuah cerita adalah salah satu kompetensi  dasar (KD) yang harus dicapai dikuasai oleh siswa sekolah dasar kelas enam. Kemampuan mendengarkan sebuah cerita merupakan salah satu jenis kemampuan mendengarkan yang sangat  penting bagi siswa dalam menjalani kehidupan sehari- hari. Pada setiap saat siapa pun pasti akan mendengarkan berbagai informasi. Salah satu informasi tersebut berupa cerita. Jadi, betapa pentingnya siswa memiliki kemampuan mendengarkan cerita.  
Pembelajaran mendengarkan sebuah cerita telah peneliti lakukan secara klasikal. Dalam pembelajaran tersebut peneliti membacakan sebuah cerita yang diambil dari buku pegangan siswa. Siswa secara perorangan ditugasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan antara lain mencatat tokoh cerita, alur cerita, latar cerita, sebab-sebab terjadinya konflik, dan menulis ringkasan cerita. Hasil pembelajaran tersebut ternyata di bawah  Kriteria Ketercapaian Minimal (KKM).
Hasil refleksi diperoleh data bahwa selama proses pembelajaran para siswa banyak yang mengeluh dan munculnya rasa tidak percaya diri. Mereka merasa sangat kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Ini merupakan gambaran kegagalan proses pembelajaran.
Uraian tersebut merupakan gambaran kegagalan terhadap proses dan hasil belajar. Kegagalan tersebut merupakan masalah yang harus segera diatasi. Sebab, kemampuan mendengarkan merupakan kemampuan yang sangat penting bagi siswa. Kemampuan mendengarkan merupakan bekal bagi siswa untuk mempelajari KD yang lain dalam mata pelajaran bahasa Indonsia dan mata pelajaran yang lain. Bahkan kemampuan mendengarkan sebagai bekal bagi siswa dalam menjalani kehidupannya di masyarakat.
Untuk mengatasi kegagalan tersebut, peneliti mempelajari beberapa buku model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengatasi kegagalan pembelajaran tersebut adalah model kerjasama kelompok.  Model kerjasama kelompok merupakan salah satu komponen model kontekstual yang dikenal dengan istilah masyarakat belajar.
Departemen Pendidikan Nasional (2002a:15) menjelaskan, ”Konsep  masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain.” Konsep tersebut menunjukkan bahwa masyarakat belajar merupakan kumpulan individu yang bekerjasama dalam satu kesatuan kelompok yang setiap anggotanya bekerja sesuai dengan tugas dan fungsi yang telah disepakati sesuai dengan kompetensinya dan mempunyai hubungan tertentu untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Dengan cara kerjasama antar siswa dalam kelompok, peneliti yakin bahwa proses pembelajaran mendengarkan cerita  akan berlangsung secara efektif dan hasil belajar pun akan meningkat.
Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti akan melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Kemampuan Siswa dalam Mendengarkan Cerita melalui Kerjasama Kelompok

B.         Rumusan Masalah
Berdasarkan judul penelitian tersebut peneliti mengajukan pertanyaan penelitian sebagai rumusan masalah sebagai berikut. “Apakah melalui kerjasama kelompok kemampuan siswa dalam mendengarkan cerita dapat meningkat?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang akan dicapai adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok.


D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini meliputi dua aspek yaitu aspek peneliti dan aspek keilmuan. Kedua aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Manfaat bagi Peneliti
a.         Sebagai pedoman bagi peneliti dalam melaksana-kan pembelajaran kompetensi dasar mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok.
b.         Sebagai bahan diseminasi dalam kegiatan KKG tentang peningkatan kemampuan siswa dalam mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok.
c.         Sebagai bahan diskusi tindak lanjut dengan kepala-kepala sekolah dan para pengawas sekolah tentang bagaiman cara meningkatkan kemampuan siswa dalam mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok.
2.  Manfaat Keilmuan
a.         Memberikan kontribusi kepada para siswa tentang bagaimana cara  meningkatkan kemampuannya dalam mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok.
b.         Memberikan kontribusi kepada seluruh anggota KKG di tingkat kecamatan dan di tingkat kota Depok  tentang bagaimana cara  meningkatkan kemampuan siswa dalam mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok.
c.         Memberikan kontribusi kepada para pengawas sekolah dan kepala sekolah tentang bagaimana cara  meningkatkan kemampuan siswa dalam mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok.
d.         Memberikan kontribusi kepada kepala bidang pendidikan dasar dan jajarannya tentang bagaimana cara  meningkatkan kemampuan siswa dalam mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok.




BAB II.
KAJIAN  TEORETIS

A. Mendengarkan Cerita
Salah satu kompetensi dasar (KD) yang harus dicapai oleh siswa kelas VI dalam Kurikulum 2004 Sekolah Dasar adalah mendengarkan sebuah cerita. Indikatornya adalah (1) mencatat tokoh cerita, alur cerita, latar cerita, dan konflik. (2) Menulis ringkasan cerita (dalam beberapa kalimat) dan hasil belajarnya  membuat ringkasan cerita.
1. Tokoh Cerita
“Tokoh cerita adalah pelukisan yang jelas tentang ditampilkan dalam sebuah cerita, ”(Nurgiyantoro, 2000: 164). Selanjutnya Nurgiyantoro, (2000: 166) menjelas-kan bahwa “Tokoh cerita mencakup masalah siapa tokoh cerita dan bagaimana perwatakannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca.” Berdasarkan penjelasan tersebut, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan tokoh cerita adalah pelukisan yang jelas tentang siapa dan bagaimana perwatakannya yang ditampilkan dalam sebuah cerita dan dapat memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca.
2. Alur Cerita
Nurgiyantoro, (2000: 142) menjelaskan alur cerita merupakan unsur waktu, baik dikemukakan secara eksplisit atau implisit. Alur cerita tidak  harus disajikan secara urutan waktu, runtut, atau kronologis yang dimulai dengan peristiwa awal, kemudian disusul dengan peristiwa tengah dan diakhiri dengan peristiwa akhir. Dalam sebuah cerita dapat saja dimulai dengan bagian mana pun.
Alur cerita harus bersifat padu. Maksudnya antara peristiwa yang diceritakan dahulu dengan peristiwa yang diceritakan kemudian ada hubungannya, saling keter-kaitan. Kaitan antar peristiwa tersebut hendaklah jelas, logis, dan dapat dikenali hubungan kewaktuannya lepas dari tempat peristiwa yang diceritakan atau latar. Alur yang utuh dan padu akan membentuk cerita yang utuh dan padu pula. 

3. Latar Cerita 
Nurgiyantoro, (2000:216) menjelaskan latar merupakan landasan tumpu yang mengarah pada tempat, waktu, dan lingkungan sosial terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar dikelompokkan bersama dengan tokoh dan alur ke dalam fakta. Ketiga hal inilah yang secara konkret dan langsung membentuk cerita dan dapat diimajinasi oleh pembaca secara faktual. Latar memberikan pijakan cerita secara konkrit dan jelas. Hal ini yang akan memberikan kesan realistik kepada pem-baca. Latar menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah ada dan terjadi.
4. Konflik
Nurgiyantoro, (2000:122) menjelaskan bahwa konflik mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang  dan menyiratkan ada aksi dan reaksi. Peristiwa dan konflik  berkaitan erat. Suatu konflik akan memunculkan suatu peristiwa. Konflik demi konflik akan memunculkan peristiwa demi peristiwa yang pada akhirnya mencapai klimak atau titik puncak suatu peristiwa.
Bentuk peristiwa dalam sebuah cerita dapat berupa peristiwa fisik atau batin. Peristiwa fisik melibatkan aktivitas fisik yaitu interaksi antara tokoh cerita dengan sesuatu di luar dirinya antara lain tokoh lain atau lingkungan. Peristiwa batin adalah sesuatu ang terjadi dalam batin atau hati seorang tokoh. Kedua bentuk konflik tersebut saling berkaitan atau saling menyebab-kan terjadinya peristiwa.
5. Ringkasan Cerita
Ringkasan cerita atau cerita yang diringkas pada hakikatnya adalah sama dengan alur cerita. Sebab alur cerita merupakan rangkaian antara peristiwa yang diceritakan dahulu dengan peristiwa yang diceritakan kemudian. Rangkaian peristiwa antar peristiwa tersebut hendaklah jelas, logis, dan dapat dikenali hubungan ke-waktuannya. Alur yang utuh dan padu akan membentuk cerita yang utuh dan padu pula.  Begitu pula dengan ringkasan cerita. Ringkasan cerita harus utuh dan padu, agar pembaca memahami rangkaian antara peristiwa yang diceritakan dahulu dengan peristiwa yang diceritakan kemudian. 


B. Kerjasama Kelompok
Departemen Pendidikan Nasional (2002a:15) menjelas-kan, ”Konsep  kerjasama kelompok menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain.” Konsep tersebut menunjukkan bahwa kerjasama kelompok merupakan kumpulan individu yang bekerjasama dalam satu kesatuan kelompok. 
Lewin (1958) dalam Munir (2001:5) menjelaskan, “Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai hubungan tertentu yang saling ketergantungan dalam ukuran-ukuran yang bermakna.” Sukamta (1980) dalam Munir (2001:6) menjelaskan kualifikasi sebuah kelompok adalah “Terjadinya interaksi tatap muka dengan frekuensi yang sangat tinggi dan menyebabkan terjalinnya hubungan psikologis  yang nyata, seperti saling rasa memiliki, rasa solidaritas, saling keter-gantungan, adanya norma kelompok, dan terbentuknya struktur kelompok.”
Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat dinyatakan bahwa dalam kerja kelompok harus terjalin hubungan  bekerjasama saling pengertian, menghargai, dan membantu dengan disertai komunikasi secara empati sebagai upaya untuk memaksimalkan kondisi pem-belajaran. Hasil pembelajaran harus merupakan hasil  sharing antar siswa dalam satu kelompok atau antar kelompok. Siswa yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu mengajari yang tidak tahu, yang cepat memahami mengajari yang lamban, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan sebagainya.
“Kerja kelompok akan terjadi apabila setiap anggotanya saling ketergantungan, siswa saling belajar dari sesama-nya baik dalam kelompok kecil atau kelompok besar,“ (Depdiknas, 2003:15). Mereka tidak ada yang merasa paling tahu atau tidak tahu. “setiap siswa harus merasa bahwa setiap siswa lain memiliki pengetahuan, pe-ngalaman, dan keterampilan yang berbeda dan perlu dipelajarinya,” (Depdiknas, 2002a:16). Bila setiap siswa merasa membutuhkan dan mau belajar dari siswa lain, maka setiap siswa dapat menjadi sumber belajar. Bila setiap siswa dapat menjadi sumber belajar, maka antar siswa akan terjalin hubungan kerjasama dan komunikasi yang harmonis.
Kondisi kerja kelompok dapat menumbuhkan kesadaran menjadi warga negara yang baik, mengembangkan kemampuan sosial dan semangat berkompetisi secara sehat dengan tidak melupakan semangat bekerjasama yang disertai dengan  komunikasi secara empati, dan sikap solidaritas yang tinggi, Depdiknas (2002b:5). Kondisi tersebut sangat  diperlukan oleh siswa baik dalam kehidupannya pada  masa sekarang maupun  masa yang  akan datang.

C. Pola Pikir
Berdasarkan penjelasan tersebut berikut ini peneliti akan menjelaskan cara menerapkan kerjasama kelompok dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam mendengarkan cerita. Departemen Pendidikan Nasional (2002a:15) menjelaskan, ”Konsep kerjasama kelompok menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain.” Konsep tersebut menunjukkan bahwa kerjasama kelompok merupakan kumpulan individu yang bekerjasama dalam satu kesatuan kelompok. 
Berdasarkan pendapat tersebut, maka langkah awal adalah peneliti membentuk kelompok. Kelas dibentuk menjadi lima kelompok yang setiap kelompok beranggotakan 7 dan 8 siswa. Dalam setiap kelompok terdiri atas siswa yang kurang, sedang, dan yang pandai. Hal ini dimaksudkan agar hasil pembelajaran merupakan hasil  sharing antar siswa dalam satu kelompok atau antar kelompok. Siswa yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu mengajari yang tidak tahu, yang cepat memahami mengajari yang lamban, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan sebagainya.
Selanjutnya, peneliti membagikan tugas-tugas yang harus dikerjakan melalui kerjasama kelompok. Setiap kelompok hanya diberi satu lembar tugas saja. Dengan cara demikian, maka akan terjalin hubungan psikologis  yang nyata, seperti saling rasa memiliki, rasa solidaritas, saling ketergantungan, adanya norma kelompok, dan terbentuknya struktur kelompok.
Setiap kelompok dipersilakan membaca tugas-tugas yang harus dikerjakannya sampai benar-benar paham. Barulah peneliti memperdengarkan cerita melalui tape recorder. Cerita diperdengarkan sampai tiga kali. Kemudian, kelompok dipersilakan bekerjasama mengerjakan tugas-tugas.
Ketika itu, peneliti melakukan penilaian proses dengan cara mengunjungi setiap kelompok untuk memberikan motivasi belajar, memberikan bantuan seperlunya, dan mengecek hasil kerja setiap kelompok. Bantuan di-berikan kepada kelompok yang membutuhkan dalam rangka mencapai belajar tuntas yaitu setiap kelompok mampu mencapai KKM. Dengan cara demikian, maka proses dan hasil belajar siswa terpantau secara efektif dan efisien.
Setelah diketahui setiap kelompok menyelesaikan tugas-tugasnya, peneliti mempersilakan setiap kelompok untuk membacakan hasil kerjanya di depan kelas lalu ditanggapi dan dinilai secara langsung oleh kelompok lain. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran menjadi warga negara yang baik, mengembangkan kemampuan sosial, dan semangat berkompetisi secara sehat dengan tidak melupakan semangat bekerjasama yang disertai dengan  komunikasi secara empati, dan sikap solidaritas yang tinggi, Depdiknas (2002b:5). Selain itu, agar terjadi sharing hasil belajar antar kelompok sesuai dengan prinsip kerjasama kelompok.
Akhir pembelajaran peneliti melakukan refleksi pembelajaran dengan cara meminta pendapat, saran, masukan, atau yang lainnya dari para siswa tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pembelajaran yang baru dilakukannya sebagai dasar untuk memperbaiki atau meningkatkan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran siklus berikutnya.

D. Hipotesis
Berdasarkan  uraian tersebut, maka penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut. “Kemampuan siswa dalam mendengarkan cerita dapat meningkat, jika diterapkan model kerjasama kelompok.”

BAB III
METODE PENELITIAN

A.         Prosedur Penelitian Tindakan Kelas
Prosedur penelitian tindakan kelas terhadap pembelajaran mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok telah peneliti lakukan sampai dua siklus. Dalam setiap siklus terdapat empat fase yaitu (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan  (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok.
Fase-fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi  kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sedangkan fase-fase pada siklus kedua dirancang dari hasil refleksi siklus pertama. Dengan cara demikian diharapkan pada siklus kedua seluruh siswa meningkatkan kemampuannya  dalam mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok.
Berikut ini, peneliti menjelaskan kegiatan yang dilakukan pada setiap fase sebagai berikut.
1.                                                     Merencanakan PTK
Kegiatan yang peneliti lakukan dalam merencanakan PTK adalah sebagai berikut. (a) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) mendengarkan cerita dengan menerapkan teknik kerjasama kelompok. (b) Membuat pedoman observasi sebagai instrumen untuk mengumpulkan data tentang proses pembelajaran. (c) Membuat tugas kelompok yang harus dikerjakan selama proses pembelajaran untuk mengukur tingkat ketercapaian indicator.
2.                                                     Melaksanakan PTK
Kegiatan melaksanakan PTK adalah melaksanakan pembelajaran mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok dengan berpedoman pada rencana pelaksana-an pembelajaran yang telah disusun.


3.Melaksanakan Observasi
Obsevasi atau  pengamatan dilakukan oleh tiga orang observer terhadap  proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti. Observasi ini menggunakan  pedoman observasi (lampiran 4). Ketiga observer itu adalah Suwoto,Spd., Herina,S.Pd., dan Dra. Rosiana.
4. Melakukan Refleksi
Refleksi dilakukan bersama ketiga observer dan dilakukan setelah proses pembelajaran siklus pertama berakhir. Hasil refleksi adalah ditemukannya masalah yang menjadi penghambat peningkatan pemahaman siswa terhadap mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok.
Pada akhir  pembelajaran siklus kedua peneliti melakukan  analisis data dengan urutan kegiatan sebagai berikut. Pertama, mereduksi data, kedua,  mengorganisasi data, dan ketiga, menarik kesimpulan, (Wardani, 2002:2.18).  Mereduksi data adalah kegiatan membuang data yang tidak relevan dan mencatat data yang dapat digunakan untuk membuktikan hipotesis. Mengorganisasi data artinya mendeskripsikan data secara naratif sesuai dengan urutan kegiatan pembelajaran. Menarik kesimpulan adalah kegiatan mengolah data secara kuantitatif dan untuk menarik kesimpulan.

B. Teknik Pengumpulan Data
1.  Observasi
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan tes. Pelaksanaan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan perbaikan pembelajaran.
Bogdan dalam Moehadjir (1996: 102) menjelaskan, bahwa dalam  melakukan observasi kita harus dapat mendeskripsikan secara rinci berbagai kejadian bukan ringkasan atau opini dan mengutip pernyataan orang bukan meringkas apa yang dikatakan orang.
Selanjutnya dijelaskan bahwa dimensi-dimensi yang perlu dideskripsikan adalah (1) tampilan fisik siswa dan guru; (2) dialog sebagaimana yang terjadi dalam  pembelajaran; (3) lingkungan fisik atau kelas dengan berbagai situasinya atau seting pembelajaran; dan (5)   kejadian-kejadian khusus yang dilakukan oleh siswa ketika  berinteraksi dengan sumber-sumber belajar; (6) berbagai aktivitas siswa dan guru dalam meng-implementasikan tahapan-tahapan model pembelajaran, serta (7) pikiran dan perasaan peneliti perlu dideskripsikan secara rinci, karena dalam penelitian kualitatif peneliti merupakan bagian  dari penelitian.
2.  Teknik Tes
Teknik tes yang digunakan adalah tes yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Tes tersebut merupakan pelaksanaan evaluasi proses yaitu evaluasi yang dilaksanakan selama pembelajaran ber-langsung. Proses pembelajaran dan evaluasi proses berlangsung secara simultan. Ketika itu, peneliti dapat memberikan motivasi belajar, memberikan bantuan kepada siswa ataukelompok yang mendapatkan kesulitan, dan sekaligus dapat mengecek hasil belajar setiap kelompok. 

C.   Teknik Pengolahan Data
Data yang digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok adalah data dari hasil kerjasama kelompok siklus pertama dan siklus kedua. Karena data tersebut berupa angka, maka teknik pengolahan data yang digunakan adalah teknik kuantitatif. Teknik kuantitatif yang peneliti gunakan sebagaimana dilakukan dalam pembelajaran sehari-hari dengan cara sebagai berikut. Pertama, peneliti membandingkan prosentasi ketercapaian setiap indikator dari setiap kelompok pada siklus kesatu dengan kedua. Kedua, peneliti membandingkan prosentasi ketercapaian seluruh indikator dari setiap kelompok pada siklus kesatu dengan siklus kedua. Ketiga, hasil perbandingan keduanya diubah ke dalam bentuk diagram batang dan diagram lingkaran.
Selisih hasil tes siklus kedua dan siklus pertama merupakan hasil belajar, (Arikunto,1998:84). Hasil belajar tersebut merupakan peningkatan kemampuan mendengarkan cerita melalui kerjasama kelompok. Apabila terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam mendengarkan cerita, berarti hipotesis terbukti. Atau sebaliknya, jika tidak terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam mendengarkan cerita, berarti hipotesis tidak terbukti.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (1998). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta:   Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. (2002a). Pendekatan Kontekstual. Depdiknas: Direktorat PLP.
Departemen Pendidikan Nasional. (2002b). Kegiatan Belajar Mengajar. Jakarta: Puskur.
Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Pembelajaran dan pengajaran Kontekstual. Depdiknas: Direktorat PLP
Muhadjir, N. (1996). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Munir,B.(2001). Dinamika Kelompok. Jakarta: Universitas Sriwijaya.

Nurgiyantoro, B. (2001). Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.
Wardani, (2002), Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Universitas Terbuka
Sumber Belajar 3
Penelitian Tindakan Kelas (Buku 3 Materi Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia). Depdiknas, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 2005.




Pada umumnya usulan PTK itu terdiri atas dua bagian penting, yakni bagian awal dan bagian isi usulan PTK.
a. Bagian Awal Usulan PTK
Bagian awal usulan PTK itu berisi halaman judul luar, halaman pengesahan.Halaman judul luar berisi judul PTK yang diusulkan, nama peneliti, dan lembagatempat peneliti bekerja. Bagian pengesahan berisi:
1)                                                     Judul PTK; bidang ilmu; dan kategori penelitian,
2)                                                     Tim peneliti termasuk nama ketua tim dan anggota-anggotanya. Lazimnya menyebutkan identitas para peneliti, termasuk, nama lengkap dengan gelar, golongan, pangkat, dan NIP, jabatan fungsional, sekolah atau lembaganya.
3)                                                     Lokasi penelitian,
4)                                                     Biaya penelitian,
5)                                                     Sumber dana penelitian.
b. Bagian lsi Usulan PTK
Bagian ini lazimnya berisikan judul penelitian, pendahuluan/latar belakang masalah. perumusan masalah, cara pemecahan masalah, tinjuan pustaka (kerangka teori dan hipotesis tindakan), tujuan penelitian, kontribusil manfaat, metode penelitian atau rencana penelitian, jadwal penelitian, rencana anggaran penelitian, daftar pustaka, lampiran dan lain-lain (Ditjen Dikti, 2004). Urutan itupun masih dapat dipertukarkan. Berikut ini adalah penjelasan bagian-bagian itu.

I) Judul/ Penelitian
Judul PTK hendaknya menyatakan dengan cermat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. Formulasi judul hendaknya singkat spesifik, jelas, dan sederhana. Namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK dan bukan sosok penelitian formal. Dengan kata lain, judul cukup jelas mewakili gambaran tentang masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi.
Judul penelitian berikut ini bukanlah judul yang baik untuk sebuah PTK.
(a) Kemampuan Menulis Siswa Kelas 6 Sekolah Dasar Se-Kecamatan Jambangan, Surabaya.
(b) Dampak Pemhelajaran Kooperatif terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas 6 Sekolah Dasar Se-Kecamatan Lembeyan. Kabupaten Magetan.
(c)                                                   Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Metode Langsung.
(d)                                                   Sopan Santun Siswa SMU Kodya Surabaya.
(e)                                                   Belajar Mandiri dan Dampaknya terhadap Prestasi Siswa.
Judul-judul itu tidak menggambarkan sosok PTK. Judul-judul itu lebih menampakkan penelitian kelas. Di dalam judul itu belum tersirat atau tersurat usaha atau upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki keadaan di dalam kelas menjadi lebih baik daripada keadaan sebelumnya.

2) Pendahuluan/Latar Belakang
Dalam pendahuluan latar belakang masalah ini hendaknya diuraikan urgensi penanganan masalah yang akan diajukan oleh peneliti melalui PTK. Untuk itu. harus ditunjukkan kesenjangan antara das Sollen dan das Sein, antara apa yang seharusnya dan apa yang terjadi di lapangan, antara de jure dan de facto. Perlu disampaikan fakta-fakta yang mendukung atas dasar pengalaman guru atau pengamatan guru selama mengajar dan pengamatan guru melalui kajian dan berbagai bahan pustaka yang relevan.
Dukungan dari hasil penelitian terdahulu sangat diharapkan untuk dapal memperkukuh alasan mengangkat pennasalahan penelilian dan memperkukuh alasan dilakukannya PTK itu. Karakteristik khas PTK yang berbeda dengan penelitian fonnal hendaknya tercennin dalam uraian dalam bagian ini.
Perlu diperhatikan pula bahwa PTK dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Oleh sebab itu, masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di sekolah dan diagnosis oleh guru dan/atau tenaga kependidikan Iainnya di sekolah. Lebih lanjut, masalah itu merupakan sebuah masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya, dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut. Setelah didiagnosis (diidentifikasi) masalah penelitiannya, maka selanjutnya perlu diidentifikasi dan dideskripsikan secara cermat akar penyebab dari masalah tersebut. Penting juga digambarkan situasi kolaboratif antar anggota peneliti dalam mencari masalah dan akar penyebab munculnya masalah tersebut. Di samping itu, prosedur dan alat yang digunakan dalam melakukan identifikasi (inventarisasi) perlu dikemukakan secara jelas dan sistematis.
3) Perumusaan Masalah
Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benar-benar diangkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya, permasalahan yang dimaksud sebaiknya bukan permasalahan yang secara teknis metodologis di luar jangkauan PTK. Uraian pennasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran pennasalahan yang periu ditangani itu tampak menjadi lebih jelas. Dengan kata lain, bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut. Dalam bagian ini pun sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan.
Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat Tanya dengan mengajukan altematif tindakan yang akan diambil dan hasil positif yang diantisipasi.
4) Cara Pemecahan Masalah
Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi serta pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, sesuai dengan kaidah PTK. Altematif pemecahan masalah yang diajukan hendaknya mem punyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dan hasil anal isi masalah. Cara pemecahan masalah telah menunjukkan akar penyebab permasa-lahan dan bentuk tindakan (action) yang ditunjang dengan data yang lengkap dan baik. Di samping itu, juga harus dibayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/ atau peningkatan implementasi program pembelajaran dan/atau berbagai program sekolah tainnya. Juga harus dicermati bahwa artikulasi kemanfaatan PTK berbeda dan kemanfaatan penelitian formal.
5) Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan
Dalam bagian ini diuraikan landasan substantif-dalam anti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan altematif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuriakan kajian terhadap pengalaman peneliti pelaku PTK sendini yang relevan dan pelaku-pelaku tindakan PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Argumentasi logik dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan dirumuskan.
6) Tinjauan Pustaka (Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan)
Dalam bagian ini diuraikan landasan substantif dalam arti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan altematif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian terhadap pengalaman peneliti pelaku PTK sendiri yang relevan dan pelaku-pelaku tindakan PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Jadi, kajian tcori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang meodasari penelitian yang akan dilakukan perlu dilakukan. Teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan, yang dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi per-masalahan penelitian tersebut juga dikemukakan. Uraian itu digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Argumentasi logik dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan yang menggambarkan tingkat keberhasilan tindakan yang diharapkan/diantisipasi dirumuskan pada bagian akhir.
7) Tujuan Penelitian
Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara singkat dengan mendasarkan pada pennasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya.secara jelas. Sasaran antara dan sasaran akhir tindakan penelitian hendaknya dipaparkan secara gamblang dalam bagian ini.
Perumusan tujuan harus taat asas dengan hakikat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian-bagian sebelumnya. Dengan sendirinya, artikulasi tujuan PTK berbeda dengan penelitian formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalui penerapan strategi PBM yang ham, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, dan sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverifikasi secara objektif, syukur kalaujuga dapat dikuantifikasikan.
8) KontribusilKemanjaatan Hasil Penelitian
Di samping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkin-an kemanfaatan penelitian. Dalam hubungan, perlu di-paparkan secara spesifik keuntungan-keuntungan yang dijanjikan terhadap kualitas pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi siswa sebagai pemetik manfaat langsung hasil PTK, di samping bagi guru khususnya guru pelaksana PTK, bagi rekan-rekan guru lainnya, bagi para dosen LPTK sebagai pendidik guru, maupun komponen pendidikan di sekolah lainnya.
Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dad penelitian ini Berbeda dari konteks penelitian formal. kemanfaatan bagi pengembangan ilmu. teknologi. dan seni tidak merupakan prioritas dalam kontcks PTK. meskipun kemungkinan kchadirannya tidak ditolak.
9) Metode Penelitian atau Rencana Penelitian
Prosedur penelitian yang akan dilakukan diuraikan seeara jelas. demikian juga subjek, setting, dan lokasi penelitian. Prosedur hendaknya dirinci dari pe-rencanaan-tindakan-observasi/evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus. Siklus-siklus kegiatan penelitian hendaknya menguraikan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya. Jumlah-jumlah siklus diusahakan lebih dari satu siklus, meskipun harus di-ingat juga jadwal kegiatan belajar di sekolah (cawu/semester).
a) Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian
Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan. di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dan kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita, latar belakang sosial ekonomi yang mungkin releYan dengan permasalahan, tingkat kemampuan dan lain sebagainya. Aspek substantif permasalahan seperti matematika kelas II SMP atau bahasa Inggris kelas III SMU, dikemukakan pada bagian ini.
b) Variabel yang diteliti
Dalam penelitian ini ditentukan variabel Penelitian yang dijadikan titik-titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut dapat berupa (I) variabel masukan (input) yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses penyelengganaan KBM seperti interaksi belajar mengajar, keterampilan bertanya guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa. impkmentasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) variabel keluaran (output) seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi. siswa, hasil belajar siswa. sikap siswa terhadap pengalaman belajar yang telah digclar mclalui tindakan perbaikan, dan sebagainya.
c) Rencana tindakan
Pada bagian ini dikemukakan rencana tindakan untuk meningkatkan mutu pembelajanan seperti:
(1) Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behaviour, pelancaran tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah, pembuatan skenario pembelaj aran, pengadaan alat-alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain-lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Di samping itu, juga diuraikan altematif-altematif solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah. Format kemitraan misalnya, antara guru dengan dosen LPTK, atau antara guru dengan guru lain, antara guru dengan kepala sekolah, antara guru dengan pengawas sekolahjuga dikemukakan pada bagian ini.
(2) lmplementasi tindakan, yaitu deskripsf tindakan yang akan digelar, skenario kerja tindakan perbaikan, dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.
(3) Observasi dan interpretasi, yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dan implementasi tindakan perbaikan yang dirancang.
(4) Analisis dan refleksi, yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan, serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.
d) Data dan cara pengumpulan data
Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan baik dengan proses maupun dampak tindakan perbaikan yang digelar yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keherhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan 'pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya.
Di samping itu, teknik pengumpulan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktivitas di ketas, (termasuk berbagai kemungkinan format dan/atau alat bantu rekam yang akan digunakan), pengggambaran interaksi di dalam kelas (analisis sosiometnik), pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen, dan sebagainya. Selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK. para guru juga harus aktif sebagai pengumpul data, bukan semata-mata sebagai sumber data.
Akhirnya, semua teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapatkan penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Meskipun mungkin saja memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik. penggunaan teknologi perekaman data yang canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan interpretasi data.
e)Indikator kinerja
Pada bagian ini tolok ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya. Untuk tindakan perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa, misalnya, perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam bentuk pengurangan Genis dan/atau tingkat kegawatan) miskonsepsi yang tertampilkan.
10) Jadwal Penelitian
Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir. Dalam petunjuk pelaksanaan PTK dari Dikti, jadwal kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan. pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil penelitian disusun selama 10 bulan.
I I) Rencana Anggaran
Dalam buku panduan dari Dikti (2004) disebutkan bahwaa biaya penelitian untuk seliap usulan maksimum Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah), dengan petunjuk rincian sebagai berikut.
a) Honorarium Ketua Peneliti dan anggota (tidak melebihi dari 30% total biaya usulan);

b) Biaya operasional kegiatan penelitian di sekolah (minimal 30% dari tolal biaya);
c)   Biaya perjalanan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan, termasuk biaya perjalanan anggota peneliti ke tempat di mana monitoring dilakukan;
d)                                                    Lain-lain pengeluaran (Iaporan, fotokopi, dan lainnya).

Berikut ini adalah beberapa hal yang berhubungan dengan perencanaan anggaran.
a) Komponen Pembiayaan
Rencana anggaran meliputi kebutuhan dukungan untuk tahap persiapan, pelaksanaan penelitian, dan pe-laporan.
Seeara lebih rinci, pembiayaan yang termasuk dalam setiap bidang adalah sebagai berikut.
(I) Persiapan
Kegiatan persiapan di antaranya meliputi pertemuan anggota tim peneliti untuk menetapkan jadwal penelitian dan pembagian kerja, menyusun instrumen penelitian, menetapkan format pengumpulan data, menetapkan teknik anal isis data, dan sebagainya.
(2) Kegiatan operasional di lapangan
Dalam kegiatan operasional dapat tercakup di antaranya pelancaran tes diagnostic dan analisis hasilnya, gladi bersih implementasi tindakan perikan, pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi pe-laksanaan tindakan perbaikan, pertemuan refleksi, perencanaan tindakan ulang, dan sebagainya.
(3) Penyusunan laporan hasil PTK
Pembiayaan dalam bagian ini adalah penyusunan konsep awal laponan, reviu konsep laporan, penyusunan konsep laporan akhir, seminar lokal hasil penelitian, seminar nasi anal hasil penelitian, dan sehagainya. Juga tennasuk dalam pembiayaan adalah penggandaan dan pengiriman laparan hasil PTK , serta pembuatan artikel hasil PTK (dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris).
b) Cara Merinci Kegiatan dan Pembiayaan
Biaya penelitian harus dirinci berdasarkan kegiatan operasional yang dijabarkan dan metodologi yang dikemukakan. Agar dapat dihitung biayanya, kegiatan operasional itu harus jelas namanya, tempatnya, lamanya, jumlah pesertanya, sarana yang diperlukan dan kelilaran yang diharapkan.



C) Patokan Pembiayaan satuan Kegiatan Penelitian
(I)                                                    Honorarium
·                                                                                                Ketua peneliti
·                                                                                                Anggota tim peneliti
·                                                                                                Tenaga administrasi
Besamya honoranium bergantung pada sumber pendanaan.
(2)Bahan dan peralatan penelitian
·                      Bahan habis pakai
·                      Alat habis
·                      Sewa alat
(3)           Perjalanan
·                      Biaya penjalanan sesuai dengan ketentuan
·                      Transportasi lokal sesuai dengan harga setempat
·                      Lumpsum termasuk konsumsi sesuai dengan ketentuan
·                      Monitoning
·                      Konsultasi
(4)           Laporan penelitian
·                      Penggandaan
·                      Penyusunan artikel
·                      Pengiriman
(5) Seminar
Seminar Iokal
·            Konsumsi sesuai dengan harga setempat
·            Biaya perjalanan sesuai dengan harga setempat
Seminar nasional
·          Biaya transportasi peserta
·          Biaya akomodasi





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri komentar dengan santun dalam penyampaian sopan dalam bahasa motto kami dari anda, terimakasih atas komentar dan kunjungannya

PENDIDIKAN BERBASIS ICT

Post Populer

Label

BBM LANJUTAN (5) BAHAN BELAJAR MANDIRI (4) case study (4) BBM TIK | ICT (3) PERMENDIKNAS (3) BANNER (2) ICT (2) JARDIKNAS ONLINE (2) KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (2) PENGEMBANGAN DIRI (2) info beasiswa mahasiswa (2) instant global trafik (2) "Tetapkan Tujuan Hidup" (1) 10 Bisnis Penghasil Milyarder Tercepat (1) 2 (1) 7 Tips Memikat Lelaki (1) 7 Tips Memikat Wanita (1) 7 kesalahan fatal affiliate pemula (1) APRESIASI PUISI (1) ASI makanan terbaik bagi bayi (1) BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NASIONAL (1) BANK SOAL UASBN SD (1) BBM-program belajar BERMUTU (1) BBM|KOMPUTER+LAPTOP (1) BUKU - PENDIDIKAN SDN KASTURI II (1) BUKU AJAR PEMAHAMAN INDIVIDU (1) Bahan Belajar Mandiri (BBM) (1) Bahan Belajar Mandiri (BBM) Lesson study (1) CONTOH PENGEMBANGAN DIRI (1) CONTOH PERHITUNGAN PAJAK (1) DOWNLOAD - PENDIDIKAN SDN KASTURI II (1) DOWNLOAD 31_jurus_menyempurnakan_PC.zip (1) Deskripsi Nilai (1) Download Software Gratis (1) FREE DOWNLOAD PTK BHS INDONESIA (1) Gambar Binatang Lucu (1) HAKIKAT STRATEGI PEMBELAJARAN (1) HUMAN ANATOMI (1) HopAd Builder clickbank (1) ICT LANJUTAN 2 (1) ICT LANJUTAN 3 (1) IDE PRODUK Yang Bisa DIJUAL TANPA Modal BESAR (1) IDENTIFIKASI MASYALAH (PTK) (1) ILMU PENDIDIKAN TEORITIS DAN PRAKTIS (1) Ilmu Komputer + Gaya Pendidikan (1) KEGIATAN EKSTRAKURIKULER (1) KODE ETIK GURU INDONESIA (1) Keterampilan Memfasilitasi (1) Konsep Jurnal belajar (1) LANDASAN TEORITIS Pengertian Metode (1) LATIHAN UAS/UASBN SD (1) LEARN MORE LEARN LESS (1) LPMP dan SPMP (1) MAKALAH (1) MERAJUT ASA MERAIH MIMPI (1) Mendulang uang lewat internet (1) OLAH RAGA 7 INDONESIA: GOLF (1) PANDUAN PENYUSUNAN SILABUS (1) PEDOMAN PEMBERIAN BANTUAN (1) PELAYANAN KONSELING (1) PENDIDIKAN INDONESIA (1) PENDIDIKAN LANJUTAN (1) PENDIDIKAN LANJUTAN 2 (1) PENGEMBANGAN PORTAL GURU PINTAR (1) PENGEMBANGAN PROFESIONALITAS GURU (1) PIGP (1) PRO KONTRA ANNE AHIRA (1) PROPOSAL PTK | FREE DOWNLOAD (1) PTK (1) PTK IPA (1) PTK MATEMATIKA (1) Pemahaman Pembelajaran Ber-Karakter (1) Program Induksi Guru Pemula (1) RPP SILABUS (1) RPP dan Silabus SD (1) SMU - PENDIDIKAN SDN KASTURI II (1) STANDAR KOMPETENSI GURU TIK SMK (1) STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (1) STRATEGI PEMBELAJARAN (1) Sikat Virus Recycle (1) Syllabus (1) TIK | ICT (1) Teknologi Informasi dan Komunikasi bag 2 (1) Waspadai Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja (1) anne ahira (1) bank soal (1) banner berjalan (1) banner best grades (1) bannerque (1) best grades (1) biz.bisnis (1) buku elektronik (1) buku elektronik smp (1) buku elektronik smu (1) contoh study kasus PTK (1) cotoh study kasus (1) detective dominator (1) ecoBALL (1) game matematika (1) gaming computer (1) golf (1) identifikasi asyalah (1) kajian kritis_bahasa indonesia (1) kegiatan TOT (1) kisi kisi ulangan harian (1) kompetensi Guru Pasca sertifikasi (1) ktsp silabus RPP all School (1) lesson study (1) meraih impian via motivasi (1) modul_kebahasaan (1) modul_kesusastraan (1) modul_media_ pembelajaran (1) modul_metologi pembelajaran (1) modul_pembelajaran berbicara (1) modul_pembelajaran membaca (1) modul_pembelajaran menulis (1) modul_pembelajarn mendengarkan (1) modul_penilaian (1) motivasi diri (1) panduan silabus+RPP (1) pendidikan sd (1) pippa middleton (1) portopolio induksi (1) potret pendidikan (1) program LPMP JAWA BARAT (1) silabus dan RPP (1) silabus/RPP SD/MI (1) soal olimpiade (1) succespul+home+garden (1)

Tukar daftar link