Minggu, 12 Desember 2010

MODEL KURIKULUM BAGI PESERTA DIDIK SOSIAL EKONOMI RENDAH PENDIDIKAN MENENGAH PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2007

BAB II
PENGEMBANGAN MODEL

A. Landasan Hukum
1. Undang-Undang Dasar 1945 dalam pasal 31 ayat (1) dan ayat (2)
2. Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada:
Pasal 1 ayat (19); Pasal 5 ayat (1); Pasal 18 ayat (1) (2) (3) (4); Pasal 32 ayat (2);
Pasal 35 ayat (1) (2) (3) (4); Pasal 36 ayat (1) (2) (3) (4) Pasal 37 ayat (1); Pasal
38.
3. Peraturan Pemerintah RI No.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan:
Pasal 1 ayat (5) (13) (14) (15): Pasal 5 ayat (1) (2); Pasal 7 ayat (1) (2) (6) (7): (8);
Pasal 8 ayat (1) (2) (3); Pasal 10 ayat (1) (2); Pasal 11 ayat (2) (3): (4): Pasal 13
ayat (1) (2) (3) (4); Pasal 16 ayat (1) (2) (3) (4) (5); Pasal 17 ayat (1): (2): Pasal 18
ayat (1) (2) (3); Pasal 20.
4. Undang-Undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 49
B. Landasan Empiris
Kemiskinan (ekonomi rendah) terus menjadi masalah fenomenal sepanjang
sejarah Indonesia sebagai nation state yang telah membuat jutaan anak-anak tidak bisa
mengenyam pendidikan yang berkualitas karena mereka dituntut untuk membantu
orang tua mereka mencari nafkah. Kemiskinan juga menyebabkan masyarakat rela
mengorbankan apa saja demi keselamatan hidup, safety life (James, C. Scott, 1981),
seperti mengorbankan anak-anaknya untuk bekerja.
Kebijakan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan tidak
berkesinambungan dan cenderung mengurangi kemiskinan yang hanya bersifat
sementara. Hal itu tampak dari kebijakan-kebijakan yang ditetapkan terkait erat
dengan adanya kucuran dana, dan apabila program-program tersebut dihentikan, maka
jumlah angka kemiskinan akan kembali meningkat. (Revrisond Baswir, Pengamat
Ekonomi dari Tim Indonesia Bangkit)
Sedangkan berbagai studi menunjukkan pendidikan bukan saja penting untuk
membangun masyarakat terpelajar yang menjelma dalam wujud massa kritis (critical
mass), tetapi juga dapat menjadi landasan yang kuat untuk memacu pertumbuahan
ekonomi melalui penyediaan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan, menguasai
teknologi, dan mempunyai keahlian dan keterampilan.
Hasil observasi empirik di lapangan mengindikasikan, bahwa sebagian besar
lulusan sekolah menengan kejuruan (SMK) kurang mampu menyesuaikan diri dengan
perubahan maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sulit untuk bisa
dilatih kembali, dan kurang bisa mengembangkan diri.
Temuan tersebut tampaknya mengindikasi bahwa pemelajaran di SMK belum
banyak menyentuh atau mengembangkan kemampuan adaptasi peserta didik. Studi itu
juga memperoleh gambaran bahwa sebagian lulusan SMK tidak bisa diserap di
lapangan kerja, karena kompetensi yang mereka miliki belum sesuai dengan tuntutan
dunia kerja. Kondisi itulah, antara lain yang menjadi alasan, bahwa Kurikulum SMK
edisi 1999 perlu ditinjau kembali kesesuaian dengan kompetensi yang dituntut oleh
pasar kerja, serta kebutuhan pembekalan kemampuan untuk beradaptasi dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pembelajaran tidak hanya terbatas ruang dan waktu, karena belajar tidak hanya
terpaku pada dinding kelas dan jadwal sekolah. Sebagai pemecahan yang dilakukan
apabila peserta didiknya tidak selalu bisa hadir di sekolah dan mengikuti jadwal
sekolah adalah salah satunya dengan tutorial, moduler, model rumah singgah ataupun
Model Kurikulum bagi Peserta Didik Sosial Ekonomi Rendah Dikmen 5
dengan lain. Ini dilakukan agar peserta didik yang tidak mempunyai waktu khusus
untuk sekolah dapat tetap sekolah sekaligus melakukan aktivitas yang biasa
dilakukannya, yang biasanya mencari uang untuk membantu orang tuanya.
D. Landasan Teori
1. Kemiskinan dan Ciri-cirinya
Oscar Lewis menyatakan, bahwa orang-orang miskin itu adalah kelompok
sosial yang mempunyai 'budaya miskin' (poverty culture) yang tampak dari tandatanda
seperti berikut: merasa tidak berharga, tidak berdaya, rendah diri, dan
ketergantungan. Wolf Scott meperincinya lebih jauh dengan mengatakan bahwa
ciri-ciri kemiskinan adalah bahwa pendapatan uang ditambah dengan keuntungankeuntungan
non-materi sangat rendah; tidak berpendidikan, kesehatan yang buruk,
dan kekurangan aksesibilitas akan transportasi. Di samping itu mereka pun kurang
atau tidak mempunyai aktiva dalam bentuk tanah dan rumah. Akan tetapi Scott
pun tidak melupakan tanda-tanda lainnya yang mungkin lebih signifikan daripada
tanda-tanda lahiriah yang melekat pada konsep kemiskinan. Yaitu, kemiskinan
non-materi yang meliputi pelbagai jenis kebebasan, hak untuk mendapatkan
pekerjaan, hak atas rumah-tangga, dan hak untuk meraih kehidupan yang layak.
Robert Chambers menjelaskan bahwa kemiskinan yang dialami oleh
masyarakat negara-negara sedang berkembang, khususnya masyarakat pedesaan,
dilantarankan oleh faktor-faktor kemalangan (disadvantages) yang ternyata kaitmengait
dengan hal-hal seperti berikut ini:
a. Kemiskinan (poverty), merupakan gambaran tradisional mengenai kemiskinan
yang ditandai oleh rumah yang hampir runtuh dengan dinding bolong-bolong
yang ditembus angin yang sayangnya jauh dari sejuk, perlengkapan hidup yang
nyaris tidak punya, kecuali sehelai dua helai tikar yang sudah lapuk tertimpa
hujan dari genting yang bocor dan beberapa tembikar yang mutunya asalasalan,
cempor yang kelap-kelip atau lampu listrik yang tidak lebih dari 10
watt, tidak memiliki jamban sendiri (kecuali jamban kolektif atau tepian
sungai). Tanda-tanda kemiskinan itu pun diperlengkapi oleh pendapatan yang
kecil dan tidak menentu sehingga utang pun perlu ditempuh agar dapat
menutup lubang dengan menggali lubang baru. Di negara kita mereka
seringkali menjadi korban kekerasan (violence) para rentenir dan mereka yang
ingin mendirikan gedung di atas tanah, dengan dalih ketertiban kota dan sudah
tentu 'rasa malu terhadap para wisatawan mancanegara'.
b. Kelemahan fisik (physical weakness) yang karena lemahnya kesehatan (karena
gizi yang sangat buruk, karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang jauh
dari mencukupi) menyebabkan rasio dependensi yang besar antara keluarga
mereka dengan anggota keluarga dewasa yang masih sehat dalam mencari
nafkah hidup. Atau sebaliknya, keluarga yang masih lumayan kuat itu dibebani
anggota-anggota keluarga selebihnya yang berpenyakitan, seringkali kronis.
Mereka yang masih kuat (survivors), karena jiwa komunalismenya yang masih
tersisa yang mereka bawa dari desa, harus membagi-bagikan rizkinya yang
didapatnya hari itu dari pekerjaan serabutan. Cara mereka memecahkan
masalah seperti itu seringkali fatalistik. Siapa tahu penjualan anak-anak dan
perempuan (trafficking) yang semakin menggejala belakang ini dilakukan
sebagai suatu cara yang mungkin dianggap dapat memecahkan lingkaran setan
dan semakin beratnya rasio dependensi tersebut.
Model Kurikulum bagi Peserta Didik Sosial Ekonomi Rendah Dikmen 6
c. Kerapuhan (vulnerability) yang disebabkan oleh tiadanya cadangan atau
tabungan untuk bisa bertahan hidup, baik dalam bentuk uang maupun barang.
Ketika tertimpa sakit, ayah, ibu atau anak meninggal, gagal panen, atau
warungnya digusur, mereka harus menyerah, sebab dengan sikap fatalistiklah
satu-satunya jalan yang harus ditempuh.
d. Keterasingan (isolation) baik geografis maupun ekonomis menyebabkan
aksesibilitas mereka terhadap informasi sangat kecil atau bahkan terputus sama
sekali dari sumber-sumber informasi yang bermakna. Sebaliknya sumbersumber
informasi pun (termasuk media massa), karena pertimbangan biaya dan
efisiensi, seringkali menjauh dari mereka.
e. Ketakberdayaan (powerlessness) yang ditunjukkan oleh ketakberdayaan
terhadap orang-orang yang mengeksploitasi kelemahan mereka, termasuk para
pengijon, lintah darat, tukang riba, dan sudah tentu para tukang pukul.
Ketakberdayaan ini pun menjadi-jadi ketika produk mereka yang tidak
memenuhi standar internasional harus berhadapan dengan produk yang
dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan asing di pasar yang sama. Mereka pun
tidak berdaya ketika teknologi mereka dicuri oleh orang-orang asing (yang
kemudian mempatenkannya secara internasional), seperti terjadi pada
teknologi batik dan tempe. Dengan cara itu, meskipun mereka mampu
memproduksi dengan kualitas yang terbaik, namun karena persoalan paten
internasional, mereka harus menerima kedudukannya yang semakin
dimarjinalkan dari pasar domestik maupun global. Dan, pemerintah pun
tampaknya tidak begitu tertarik pada masalah ini. Mungkin karena
kesibukannya dalam melayani permintaan IMF yang tidak putus-putusnya.
2. Pendidikan Layanan Khusus dan Kurikulum
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara”.
Sektor pendidikan adalah salah satu dari beberapa sektor yang menjadi
perhatian kita bersama. Bahkan di dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa tanggung jawab pendidikan
adalah merupakan tanggung jawab bersama di antara beberapa pihak seperti
sekolah, masyarakat, dan pemerintah.
Pendidikan Layanan Khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di
daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau
mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.
Pendidikan Layanan Khusus bagi peserta didik sosial ekonomi rendah merupakan
bagian dari PLK yang tertuang dalam Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 pasal
32 ayat 2.
Kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,
isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu (Undang-Undang No.23 tahun 2003 Pasal 1 ayat 19 dan PP No. 19 Pasal 1
ayat 13).
Kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum operasional yang
disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan (PP No. 19
Model Kurikulum bagi Peserta Didik Sosial Ekonomi Rendah Dikmen 7
Tahun 2005 Pasal 1 Ayat 15). Penyusunan kurikulum pada tingkat satuan
pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan
yang disusun oleh BSNP. (PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 16)
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pendidikan Layanan
Khusus (PLK) merupakan merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh
dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan untuk melayani peserta
didik yang tidak mampu dari segi ekonomi.
a. Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan lanjutan pendidikan
dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA),
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK)
atau bentuk lain yang sederajat.
Pendidikan menengah bertujuan membangun landasan bagi
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri, dan menjadi warga negara
yang demokratis dan bertanggung jawab untuk mengikuti pendidikan lebih
lanjut atau bekerja dalam bidang tertentu sejalan dengan pencapaian tujuan
pendidikan nasional.
Pendidikan menengah umum berfungsi menyiapkan peserta didik untuk
memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap, serta rasa keindahan dan harmoni
yang diperlukan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup
di masyarakat sejalan dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Pendidikan menengah kejuruan berfungsi menyiapkan peserta didik
menjadi manusia produktif dan mampu bekerja mandiri, terutama untuk
bekerja dalam bidang tertentu sesuai persyaratan pasar kerja sejalan dengan
pencapaian tujuan pendidikan nasional.
a.1. Sekolah Menengah Atas
Sekolah Menengah Atas yang selanjutnya disebut SMA adalah
salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan
pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan
dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil
belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs.
Struktur kurikulum SMA/MA meliputi substansi pembelajaran
yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai
Kelas X sampai dengan Kelas XII. Struktur kurikulum disusun
berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata
pelajaran. Pengorganisasian kelas-kelas pada SMA/MA dibagi ke dalam
dua kelompok, yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti
oleh seluruh peserta didik, dan kelas XI dan XII merupakan program
penjurusan yang terdiri atas empat program: (1) Program Ilmu
Pengetahuan Alam, (2) Program Ilmu Pengetahuan Sosial, (3) Program
Bahasa, dan (4) Program Keagamaan, khusus untuk MA.
a.2. Sekolah Menengah Kejuruan
Sekolah Menengah Kejuruan yang selanjutnya disebut SMK
adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang
menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan
menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang
Model Kurikulum bagi Peserta Didik Sosial Ekonomi Rendah Dikmen 8
sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara
SMP/MTs. Pendidikan menengah kejuruan berfungsi menyiapkan peserta
didik menjadi manusia produktif dan mampu bekerja mandiri, terutama
untuk bekerja dalam bidang tertentu sesuai persyaratan pasar kerja atau
mengikuti pendidikan yang lebih tinggi sejalan dengan pencapaian tujuan
pendidikan nasional.
Tujuan penyelenggaraan pendidikan SMK adalah mempersiapkan
peserta didik untuk memasuki dunia kerja dengan keterampilan tertentu.
Tetapi kenyataan membuktikan bahwa ada sebagian lulusan SMK yang
melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Dengan asumsi bahwa
kompetensi produktif lebih ditekankan pada SMK maka peluang
berkompetisi akademik dengan SMA menjadi lebih kecil. Hal ini
menuntut layanan khusus yang berisi kompetensi akademik untuk peserta
didik yang akan melanjutkan pendidikannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri komentar dengan santun dalam penyampaian sopan dalam bahasa motto kami dari anda, terimakasih atas komentar dan kunjungannya

PENDIDIKAN BERBASIS ICT

Post Populer

Label

BBM LANJUTAN (5) BAHAN BELAJAR MANDIRI (4) case study (4) BBM TIK | ICT (3) PERMENDIKNAS (3) BANNER (2) ICT (2) JARDIKNAS ONLINE (2) KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (2) PENGEMBANGAN DIRI (2) info beasiswa mahasiswa (2) instant global trafik (2) "Tetapkan Tujuan Hidup" (1) 10 Bisnis Penghasil Milyarder Tercepat (1) 2 (1) 7 Tips Memikat Lelaki (1) 7 Tips Memikat Wanita (1) 7 kesalahan fatal affiliate pemula (1) APRESIASI PUISI (1) ASI makanan terbaik bagi bayi (1) BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NASIONAL (1) BANK SOAL UASBN SD (1) BBM-program belajar BERMUTU (1) BBM|KOMPUTER+LAPTOP (1) BUKU - PENDIDIKAN SDN KASTURI II (1) BUKU AJAR PEMAHAMAN INDIVIDU (1) Bahan Belajar Mandiri (BBM) (1) Bahan Belajar Mandiri (BBM) Lesson study (1) CONTOH PENGEMBANGAN DIRI (1) CONTOH PERHITUNGAN PAJAK (1) DOWNLOAD - PENDIDIKAN SDN KASTURI II (1) DOWNLOAD 31_jurus_menyempurnakan_PC.zip (1) Deskripsi Nilai (1) Download Software Gratis (1) FREE DOWNLOAD PTK BHS INDONESIA (1) Gambar Binatang Lucu (1) HAKIKAT STRATEGI PEMBELAJARAN (1) HUMAN ANATOMI (1) HopAd Builder clickbank (1) ICT LANJUTAN 2 (1) ICT LANJUTAN 3 (1) IDE PRODUK Yang Bisa DIJUAL TANPA Modal BESAR (1) IDENTIFIKASI MASYALAH (PTK) (1) ILMU PENDIDIKAN TEORITIS DAN PRAKTIS (1) Ilmu Komputer + Gaya Pendidikan (1) KEGIATAN EKSTRAKURIKULER (1) KODE ETIK GURU INDONESIA (1) Keterampilan Memfasilitasi (1) Konsep Jurnal belajar (1) LANDASAN TEORITIS Pengertian Metode (1) LATIHAN UAS/UASBN SD (1) LEARN MORE LEARN LESS (1) LPMP dan SPMP (1) MAKALAH (1) MERAJUT ASA MERAIH MIMPI (1) Mendulang uang lewat internet (1) OLAH RAGA 7 INDONESIA: GOLF (1) PANDUAN PENYUSUNAN SILABUS (1) PEDOMAN PEMBERIAN BANTUAN (1) PELAYANAN KONSELING (1) PENDIDIKAN INDONESIA (1) PENDIDIKAN LANJUTAN (1) PENDIDIKAN LANJUTAN 2 (1) PENGEMBANGAN PORTAL GURU PINTAR (1) PENGEMBANGAN PROFESIONALITAS GURU (1) PIGP (1) PRO KONTRA ANNE AHIRA (1) PROPOSAL PTK | FREE DOWNLOAD (1) PTK (1) PTK IPA (1) PTK MATEMATIKA (1) Pemahaman Pembelajaran Ber-Karakter (1) Program Induksi Guru Pemula (1) RPP SILABUS (1) RPP dan Silabus SD (1) SMU - PENDIDIKAN SDN KASTURI II (1) STANDAR KOMPETENSI GURU TIK SMK (1) STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (1) STRATEGI PEMBELAJARAN (1) Sikat Virus Recycle (1) Syllabus (1) TIK | ICT (1) Teknologi Informasi dan Komunikasi bag 2 (1) Waspadai Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja (1) anne ahira (1) bank soal (1) banner berjalan (1) banner best grades (1) bannerque (1) best grades (1) biz.bisnis (1) buku elektronik (1) buku elektronik smp (1) buku elektronik smu (1) contoh study kasus PTK (1) cotoh study kasus (1) detective dominator (1) ecoBALL (1) game matematika (1) gaming computer (1) golf (1) identifikasi asyalah (1) kajian kritis_bahasa indonesia (1) kegiatan TOT (1) kisi kisi ulangan harian (1) kompetensi Guru Pasca sertifikasi (1) ktsp silabus RPP all School (1) lesson study (1) meraih impian via motivasi (1) modul_kebahasaan (1) modul_kesusastraan (1) modul_media_ pembelajaran (1) modul_metologi pembelajaran (1) modul_pembelajaran berbicara (1) modul_pembelajaran membaca (1) modul_pembelajaran menulis (1) modul_pembelajarn mendengarkan (1) modul_penilaian (1) motivasi diri (1) panduan silabus+RPP (1) pendidikan sd (1) pippa middleton (1) portopolio induksi (1) potret pendidikan (1) program LPMP JAWA BARAT (1) silabus dan RPP (1) silabus/RPP SD/MI (1) soal olimpiade (1) succespul+home+garden (1)

Tukar daftar link